Tifanni merupakan murid senior di salah satu SMP ternama di Jakarta. Pada suatu sabtu yang terik, Tifanni dan teman-temannya berjalan menuju gerbang sekolah melewati tennis indoor di sekolahnya. Dengan seketika Tiffani terpana oleh seorang laki-laki dengan ekskul Taekwondo yang sedang latihan menendang, dengan kakinya yang lurus 90 derajat.
Keesokan harinya Tifanni tak dapat melupakan apa yang dia lihat kemarin siang. Beberapa hari berlalu, Tifanni mencari tahu apa saja tentang laki-laki itu, namanya Kelvin. Setelah mendapatkan nomor hp Kelvin dari teman-teman sekolahnya, tifanni memberanikan diri untuk mengirim sms ke Kelvin, dan Kelvin pun memberikan respon yang baik pula. Setelah merasa dekat, dengan sering jalan-jalan bersama, Tiffani memberanikan diri untuk menyatakan perasannya pada Kelvin. Tanpa pikir panjang Kelvin segera menolak Tiffani dengan alasan karena Tiffani beragama Kristen protestan dan Kelvin beragama Islam.
Tiffani tak berhenti sampai disitu, dia selalu mengajak Kelvin jalan-jalan bersama teman-temannya, mentraktir Kelvin makan dan membelikan Kelvin pulsa. Setelah berselang waktu sebulan Tiffani memutuskan untuk menyatakan persaannya lagi kepada Kelvin. Sama seperti sebelumnya Kelvin menolak Tiffani, karena alasan yang sama. Tiffani tak pernah putus asa untuk mendapatkan hati Kelvin.
Tak terasa sudah 3 bulan berlalu sejak pertama kali Tiffani melihat Kelvin pertama kali di dalam tennis indoor. Tiffani terus saja bersikeras mendekati Kelvin. Meskipun dia mengeluarkan biaya yang tak sedikit untuk mengajak Kelvin jalan-jalan, mentraktir Kelvin makan dan membelikan pulsa untuk Kelvin. Tiffani memutuskan ini terakhir kalinya dia akan menyatakan perasaannya pada Kelvin, melalui sms :
“Vin, kamu mau nggak jadi pacar aku?”
Sudah 5 jam Tiffani menunggu sms balasan dari Kelvin, tak terasa jam telah menunjukkan pukul 12 malam. Karena sudah terlalu larut, Tiffani pun tertidur pulas di atas kasurnya.
Pagi harinya, saat di sekolah Tiffani melihat Kelvin dan segera lari menghindar dari Kelvin. Dan Kelvin pun dengan segera mengejar Tiffani melewati ruang kelas hingga masuk ke kantin, koridor dan Kelvin berhasil mencegat Tiffani di depan gerbang sekolah.
“kenapa?” Tanya tiffani sambil terengah-engah.
“fan, pulsanya mana?” dengan wajah polosnya dan sedikit terlihat bodoh.
“Ha???? Iya iya, ntar deh” Tiffani dengan kesal dan berlari menjauhi Kelvin.
Ketika sampai di rumah Tiffani mendapati ada sms masuk di hp nya dari Kelvin:
“sorry aku baru buka hp”
Tiffani mengabaikan sms tersebut, karena masih kesal dengan Kelvin di sekolah tadi yang mengejarnya bukan untuk menjawab pertanyaannya di sms kemarin malah meminta pulsa yang sudah dijanjikan Tiffani.
Keesokan paginya, Kelvin mendatangi Tiffani yang sedang duduk di dalam kelas bersama teman-temannya dan menarik Tiffani keluar dari kelas, dan dengan gugup mengatakan bahwa dia bersedia menerima tiffani menjadi pacarnya, tepat nya pada tanggal 31 januari 2009.
Ujian praktek, ujian sekolah, ujian nasional, hingga lulus dari sekolah telah mereka lewati sebagai sepasang kekasih.
Sekolah mereka mengadakan jalan-jalan ke bali sebagai hiburan untuk kelas 3 SMP, karena telah melewati begitu banyaknya ujian dari sekolah. Tanpa Tiffani ketahui, ternyata orang tua Kelvin terutama ibunya sangat menentang hubungan Tiffani dengan Kelvin. Tak segan-segan, ibunya Kelvin meminta bantuan walikelas Kelvin untuk memisahkan Tiffani dan Kelvin, dan selalu mengawasi mereka berdua saat jalan-jalan ke bali nanti.
Hubungan Tiffani dan Kelvin pun mulai tak baik lagi karena mereka merasa di tentang oleh wali kelas dan juga orang tua Kelvin.
Sesampainya di bali, Tiffani dan Kelvin selalu saja diawasi oleh wali kelas mereka. Pada suatu malam, Tiffani yang bosan dengan suasana hotel dan masih saja kesal dengan wali kelasnya yang terus terusan mengawasi gerak gerik dia dan Kelvin, Tiffani mengajak wahyu, teman dekatnya untuk berjalan-jalan ke alun-alun kota denpasar. Dari kejauhan Tiffani melihat seorang cowok yang sedang berlari ke arahnya dengan rambut yg berantakan, pakaian yang sedikit berantakan dan juga lusuh. Ternyata itu Kelvin, ia berlari mendekati Tiffani dengan matanya yang sembab dan berlinang air mata.
“kamu kemana aja? Aku daritadi nyariin kamu” Tanya Kelvin dengan tersedu-sedu seperti orang yang baru saja selesai menangis.
“vin, udah deh ya. Kita jangan dekat-dekat kalo disini. Takutnya nanti wali kelas kita, si Bu rani itu ribet trus ngadu-ngadu ke mama kamu. Aku males vin” Sedikit membentak Kelvin yang air matanya perlahan-lahan mengalir deras di pipinya.
“Biarin aja, yang penting aku maunya sama kamu” jawab Kelvin seraya menggenggam tangan Tiffani.
“Enggak vin, nggak tau deh” dengan segera Tiffani menghempaskan tangan Kelvin ke udara, dan mengajak wahyu pulang ke hotel, dan meninggalkan Kelvin seorang diri di alun-alun kota denpasar yang sangat ramai itu di malam yang dingin.
Hubungan mereka semakin lama semakin tidak baik, hingga kepulangan mereka dari bali.
Beberapa minggu berlalu, hari pengambilan ijazah dan rapor kelas 3 SMP pun tiba. Kelvin datang sendirian tanpa di dampingi orang tuanya. Kelvin tampil sangat tampan dengan setelan jeans panjang berwarna biru tua dan kemeja kotak kotak dengan perpaduan antara warna putih, biru muda dan biru tua, dan tak lupa sepatu merek converse yang semakin menunjang penampilannya. Hal itu sangat membuat perhatian Tiffani teralihkan oleh Kelvin, tapi ada 1 yang mengganjal di mata Tiffani. Kelvin tidak biasanya mengenakan kemeja dengan buah baju paling atas di kancingkan.
Tiffani menghampiri Kelvin dan memaksanya membuka buah baju yang paling atas tersebut. Tapi Kelvin menolaknya. Setelah Tiffani bersikeras memaksa Kelvin untuk membukanya, Kelvin pun mengabulkan permintaan Tiffani. Dan betapa terkejutnya Tiffani melihat garis-garis merah seperti cakaran di leher dan tubuh Kelvin.
Tanpa disadari wali kelas mereka, Bu rani sedang berada di dekat mereka. Bu rani langsung mengajak Tiffani dan Kelvin ke ruang bimbingan konselliing (BK), dan meminta Kelvin menceritakan tentang bentuk cakaran itu. Kelvin menceritakan bahwa ini hasil kekejaman ibunya, yang sangat menentang hubungannya dengan Tiffani. Ibu Kelvin marah besar saat tau kalau Kelvin berpacaran dengan Tiffani dan segera menampar pipi, mencakar tubuh Kelvin hingga leher, dan hampir saja ibu Kelvin ingin menusuk Kelvin dengan sebuah gunting tajam. Tetapi hal itu berhasil digagalkan oleh ayah Kelvin, dan segera memarahi ibunya Kelvin. Kelvin pun menangis seketika dan tak dapat melanjutkan ceritanya. Mendengar semua cerita itu, Bu rani pun meminta maaf kepada Kelvin dan Tiffani karena telah salah sangka kepada ibunya Kelvin yang dia anggap baik yang ternyata disebut sebagai manusia pun tidak pantas.
Hari pendaftaran SMA pun tiba, Kelvin dan Tiffani memutuskan untuk mendaftar di SMA yang sama. Selama ini mereka berpacaran secara diam-diam, Tiffani mengambil keputusan itu karena dia tak mau Kelvin disakiti lagi oleh orang tuanya. Mereka berdua berhasil masuk di SMA yang sama yang mereka pilih bersama tadi. Mereka berdua ditempatkan di kelas yang berbeda, Tiffani di kelas X.1 dan Kelvin di kelas X.6. Bulan pertama di sekolah baru, mereka terus berduaan karena sangat sulit memiliki teman baru.
Tiga bulan pertama mereka masuk ke SMA tersebut, Kelvin terlihat sering berkumpul bersama dengan teman-teman barunya dan jarang bersama tiffani lagi. Kelvin selalu saja bilang sibuk apabila Tiffani mengajaknya duduk berdua di koridor sekolah. Dan Tiffani sering melihat Kelvin sering bersama dengan seorang wanita berkerudung, Tiffani tau bahwa wanita itu adalah teman sekelasnya Kelvin, dia bernama Vera. Menurut Tiffani, Vera tidak ada apa-apanya apabila dibandingkan dengan dirinya. Cuma 1 yang ditakutkan Tiffani, Vera beragama islam dan mengenakan jilbab. Dia takut Kelvin berpaling dari dirinya ke Vera.
Pada saat istirahat, Tiffani memaksa Kelvin mendatangi dirinya di ruang lab kimia. Mereka berdua duduk di depan lab kimia, dan mulai berbincang-bincang.
“vin, kamu kok sekarang jarang datengin aku ke kelas sih?”
“kan udah aku bilang fan, aku sibuk, banyak tugas. Kamu ngerti dikit bisa nggak sih?” tanpa melihat sedikitpun kearah tiffani.
“vin …….” Dengan lesu dan wajah memelas Tiffani melihat ke arah Kelvin.
“mmm …..??” Tanya Kelvin dengan hanya bergumam.
“hmm … kamu sebenarnya masih sayang nggak sih sama aku?”
“nggak tau, aku bingung” sambil menggaruk-garuk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.
Beberapa minggu setelah perbincangan mereka di depan lab kimia tadi, Tiffani meminta mengakhiri hubungan mereka pada Kelvin. Dan Kelvin pun menyetujuinya.
Saat naik ke kelas 2 SMA, Tiffani mengambil jurusan IPS dan Kelvin jurusan IPA. Dan juga Tiffani telah memiliki kekasih baru bernama, Sam. Tetapi Kelvin tetap saja sendiri. Tak bertahan berapa lama Tiffani pun putus dengan Sam.
Sebenarnya jauh di lubuk hati Tiffani yang paling dalam, dia masih sangat menyayangi Kelvin. Tiffani bertanya-tanya dalam hati, kenapa sampai sekarang Kelvin belum bisa menemukan pengganti dirinya. Tiba tiba Tiffani teringat sesuatu, saat sedang duduk berdua di koridor sekolah, ketika awal-awal naik ke kelas 1 sma Kelvin pernah mengatakan :
“aku janji, aku nggak akan nikah atau pacaran lagi kalo bukan sama kamu. Dan kalaupun kita putus, dan udah dewasa nanti aku nggak akan bisa nikah kalo kamu belum nikah sama pasangan pilihan kamu”.
Tiffani terus berpikir dalam hatinya, “apakah kelvin termakan oleh omongannya sendiri????”
Perlahan-lahan tiffani dapat menghapus bayang-bayang Kelvin di hatinya, dia dapat membuang kenangan tentang Kelvin seutuhnya dari hatinya.
Sejak tiffani dan Kelvin memutuskan untuk putus, hingga naik ke kelas 3 SMA, Tiffani dan Kelvin tak pernah bertegur sapa, ataupun hanya melemparkan sebuah senyuman tipis.
Sekarang Tiffani baru saja menemukan tambatan hatinya yang baru, yang iya kenal di tempat lesnya, laki-laki itu bernama Volta. Dan Tiffani baru mencapai tahap pendekatan dengan Volta.
Dan Tiffani berjanji akan menceritakan selengkap mungkin perjalanan cintanya yang baru dengan Volta ini kepadaku, suatu hari nanti.